Senin, 31 Maret 2014

pabrik harley davidson

                                                              oleh : Ahmad Fairuz

Pasti kenal dengan motor gede Harley Davidson, Suara mesinnya ketika jalan dengan pengendara yang begitu identik serta harganya yang selangit membuat motor ini memiliki kesan kuat terutama di kalangan orang berkantong tebal.
Harley Davidson
Motor ini punya sejarah panjang dan menjadi bagian penting dari perkembangan motor besar di dunia, sehingga membuat Unyil ingin sekali datang ke pabriknya di Amerika Serikat.

Akhirnya kesempatan itu tiba saat empat bulan yang lalu, ketika perayaan anniversary Harley Davidson ke 110. Yang membuat Unyil senang lagi lho Unyilers, tak banyak media Indonesia yang bisa masuk ke pabrik besar ini, sehingga Unyil perlu berbagi cerita untuk Unyilers seluruh Indonesia.
Sebenarnya pabrik Harley di Amerika Serikat punya tiga pabrik, masing-masing pabrik menjalankan fungsi yang berbeda-beda, Pabrik di Pilgrim Road Menomonee Falls 15 mil dari kota Milwaukee khusus membuat bagian mesin dan transmisi, sedangkan di kota York dan Kansas City pabriknya memproduksi bagian mesin, tramisi dan perakitan hingga motor siap jual.
Harley Davidson
Naah…Unyil ke Pabrik di Milwaukee dulu, disini mesin V-twins yang memiliki tipe mesin 2 silinder dengan tuas piston bentuk V di produksi. Mesin ini termasuk tipe mesin klasik, dimana motor-motor Inggris jaman dulu biasa memakainya, kenapa masih di produksi? Karena masih banyak permintaan dan punya keunggulan terutama tenaga dan kecepatan.
Hanya saja, tipe mesin ini dikenal lebih cepat panas, sehingga pengendara motor bermesin tipe V harus memakai sepatu boot atau pelindung kaki supaya kulit tidak terbakar.
Untuk membuat mesin, awalnya pekerja membuat blok mesin beserta komponennya dari bahan baku besi baja, lalu rakit komponen sesuai desain blok, untuk perakitan yang gampang dilakukan oleh robot, sedangkan yang sulit jatahnya para pekerja.
Pekerja memasang sesuai dengan keahliannya, ada yang bagian piston dan perapian, bagian roda-roda gigi transmisi, atau bagian khusus perekat baut-baut blok. Bila sudah jadi mesin perlu di bawa ke laboratourium untuk mengukur tenaga yang dihasilkan mesin, kecepatan putaran, hingga tekanan dan temperatur mesin.
Harley Davidson
Sudah cukup? Belum…Sekarang Unyil ajak Unyilers ke pabrik Harley di Kansas City, untuk melihat perakitan motornya, kali ini tipe yang Unyil ceritakan tipe Harley V-RODS.
Awalnya rangka motor di buat dengan membentuk pipa menjadi lekukan, agar lebih halus pabrik ini mebuat cetakannya memakai mesin tenaga air, lalu pipa besi dipotong dengan ukuran yang pas dan akan di rakit oleh sang Robot, canggih benar unyil aja sampai takjub.Dalam proses ini nomor rangka motor juga di buat sebagai identitas.
Harley Davidson
Proses berikutnya, Pasang blok mesin yang sudah di buat di pabrik Milwaukee dengan rangka motor yang tercipta, sambil menambah komponen lain seperti pendingin mesin, roda depan belakang, stang kemudi, hingga pipa hingga jok motor. Daaan, motor Harley Davidsonnya jadi dan siap untuk dijual ke pasar dengan harga ratusan juta.

Cara Membuat Lakban

                                oleh : Ahmad Fairuz
 ada satu benda gulung yang sangat penting dengan lapisan tipis yang sering kita gunakan dirumah untuk menempelkan dan mengeratkan lapisan kardus saat pindah rumah atau kirim barang ke luar kota, ayo apa?
Lakban
Lakban, iya…benda inilah yang menjadi salah satu barang yang selalu ada dirumah kita.

Benda yang memiliki daya rekat ini, menjadi target Unyil untuk berbagi cerita tentang cara pembuatannya, makanya Unyil berkunjung ke salah satu pabriknya di Tangerang Jawa Barat.
Lakban
Bahan dasar untuk membuat lakban ternyata bukan dari plastik sembarangan lho, plastik yang di gunakan berjenis B-O-P-P Film, atau Biaxially Oriented polypropilen. Awalnya, bahan plastik film di pasang pada mesin printing sambil di beri warna sesuai dengan kebutuhan, lalu mesin menarik plastik dan tinta berwarna oranye mulai di curahkan. Bila sudah selesai tinta warna perlu dikeringkan dengan mengunakan suhu panas dari blower yang terdapat di atas mesin printing. Hasil pewarnaan plastik fim masih perlu di teliti lagi untuk memastikan tintanya merata dengan sempurna.
Lakban
Lanjut!!!, kini plastik film masuk ke proses coating atau pembelian lem, untuk pemasangannya prosesnya hampir sama dengan yang pertama tadi, plastik di tarik dengan mesin lalu otomatis cairan lem jenis resin di tuangkan. Supaya cepat kering, plastik yang memiliki cairan lem dibawa ke dalam oven sepanjang 25 meter dengan suhu panas mencapai 140 derajat celsius.
Lakban
Kini, lakban yang masih dalam bentuk gulungan besar mulai masuk proses pemotongan. Karena masih besar, pabrik menyediakan cincin karton sebagai alas gulungan, lalu berjalan melewati barisan pisau hingga cincin karton tergulung satu lapisan demi lapisan sampai lembaran lakban memiliki ketebalan cukup.
Sebelum masuk ke kemasan, lakban mesti melewati proses uji kualitas. Caranya dengan menguji ke elastisitasan-nya, cukup pasangkan plastik pada alat a-longnation lalu tarik secara perlahan-lahan. Bila plastiknya terputus melewati standar yang ditentukan maka lakban lulus uji kualitas.

Cara Membuat Kacamata Penuh Gaya



Kegunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari sangatlah besar, salah satunya plastik digunakan untuk membuat kacamata. Kebetulan banget nihh, beberapa hari lalu Unyil berkesempatan datang ke pabrik kacamata di daerah Pasar Kemis Tangerang Banten.

Pabrik ini adalah pabrik kacamata satu-satunya di Indonesia lhoo. Tidak hanya membuat kacamata anak-anak saja, tapi juga kacamata untuk dewasa dan orang tua.

Kacamata anak-anak yang lagi tren sekarang ini pasti Unyilers tahu kan?? Yap kacamata dengan bagian mata dan kaki yang mempunyai warna berbeda. Bentuknya juga unik dan ada tambahan aksesorisnya dibagian atas mata.



Jenis plastik yang digunakan untuk membuat kacamata anak-anak berbeda dengan kacamata untuk orang dewasa. Kalau untuk anak-anak, nama jenis plastiknya adalah Poly Propylene (PP). Jenis plastik ini lentur sehingga nyaman sekali dipakai untuk anak-anak.

Cara membuat kacamata anak-anak dimulai dengan mencampurkan biji plastik berwarna putih dengan pigmen warna, Setelah tercampur rata, baru masuk ke mesin injeksi. Biji plastik akan dipanaskan sampai meleleh. Lalu disuntikkan pada centakan di mesin injeksi. Tunggu sebentar, bagian mata dan kaki kacamata pun tercetak.


Tinggal pasang aksesoris lucu seperti kupu-kupu pada bagian atas bingkai mata nih. Jangan lupa satukan mata dan kaki. Terakhir pasang lensa pada bagian mata .

Teman-teman Unyil bisa bergaya deh dengan kacamata trendi warna -warni ini. Cheeerrsss…hehehe.

 Berbeda dengan kacamata anak yang simple sekali pembuatannya, kacamata orang dewasa lumayan rumit nih hehehe, Karena jenis plastic yang digunakan yaitu ABS ( Acrylonitrile Butadiene Styrene) tidak bisa langsung memberikan warna yang kinclong. Jadi harus melewati tahap penyemprotan.

Setelah melewati tahap pencetakan, kacamata harus digiling dulu. Yap penggilingan dilakukan untuk menghaluskan dan membuka pori-pori. Jadi pengecatan bisa sempurna hasilnya.

Ada satu model kacamata yang lagi banyak peminatnya nih. Namanya kacamata terapi. Warna lensanya hitam dan bolong-bolong lhoo. Tidak ada syarat khusus jumlah bolongannya, yang penting sejajar.

Dibuat bolong pasti ada alasannya Unyilers. Lensa bolong ini dapat memblokir cahaya yang tidak diperlukan saat masuk ke mata. Jadi hanya cahaya objek yang dilihat. Jadi lebih fokus melihat objek. Selain untuk membaca, kacamata terapi ini juga baik digunakan ssat di depan komputer dan menonton televisi.
 



 
 
 


 

Minggu, 30 Maret 2014

Hasan al Banna : Berdakwah ke seluruh dunia

       Oleh : Ahmad Fairuz

Hasan al Banna dilahirkan di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir tahun 1906 M. Ayahnya, Syaikh Ahmad al-Banna adalah seorang ulama fiqh dan hadits. Sejak masa kecilnya, Hasan al Banna sudah menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan otaknya. Pada usia 12 tahun, atas anugerah Allah, Hasan kecil telah menghafal separuh isi Al-Qur’an. Sang ayah terus menerus memotivasi Hasan agar melengkapi hafalannya. Semenjak itu Hasan kecil mendisiplinkan kegiatannya menjadi empat. Siang hari dipergunakannya untuk belajar di sekolah. Kemudian belajar membuat dan memperbaiki jam dengan orang tuanya hingga sore. Waktu sore hingga menjelang tidur digunakannya untuk mengulang pelajaran sekolah. Sementara membaca dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an ia lakukan selesai shalat Shubuh. Maka tak mengherankan apabila Hasan al Banna mencetak berbagai prestasi gemilang di kemudian hari. Pada usia 14 tahun Hasan al Banna telah menghafal seluruh Al-Quran. Hasan Al Banna lulus dari sekolahnya dengan predikat terbaik di sekolahnya dan nomor lima terbaik di seluruh Mesir. Pada usia 16 tahun, ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum. Demikianlah sederet prestasi Hasan kecil. Selain prestasinya di bidang akademik, Ia juga memiliki bakat leadership yang cemerlang. Semenjak masa mudanya Hasan Al-Banna selalu terpilih untuk menjadi ketua organisasi siswa di sekolahnya. Bahkan pada waktu masih berada di jenjang pendidikan i’dadiyah (semacam SMP), beliau telah mampu menyelesaikan masalah secara dewasa, kisahnya begini: Suatu siang, usai belajar di sekolah, sejumlah besar siswa berjalan melewati mushalla kampung. Hasan berada di antara mereka. Tatkala mereka berada di samping mushalla, maka adzan pun berkumandang. Saat itu, murid-murid segera menyerbu kolam air tempat berwudhu. Namun tiba-tiba saja datang sang imam dan mengusir murid-murid madrasah yang dianggap masih kanak-kanak itu. Rupanya, ia khawatir kalau-kalau mereka menghabiskan jatah air wudhu. Sebagian besar murid-murid itu berlarian menyingkir karena bentakan sang imam, sementara sebagian kecil bertahan di tempatnya. Mengalami peristiwa tersebut, al Banna lalu mengambil secarik kertas dan menulis uraian kalimat yang ditutup dengan satu ayat Al Qur’an, “Dan janganlah kamu mengusir orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya.”(Q. S. Al-An’aam: 52). Kertas itu dengan penuh hormat ia berikan kepada Syaikh Muhammad Sa’id, imam mushalla yang menghardik kawan-kawannya. Membaca surat Hasan al Banna hati sang imam tersentuh, hingga pada hari selanjutnya sikapnya berubah terhadap “rombongan anak-anak kecil” tersebut. Sementara para murid pun sepakat untuk mengisi kembali kolam tempat wudhu setiap mereka selesai shalat di mushalla. Bahkan para murid itu berinisiatif untuk mengumpulkan dana untuk membeli tikar mushalla! Pada usia 21 tahun, beliau menamatkan studinya di Darul ‘Ulum dan ditunjuk menjadi guru di Isma’iliyah. Hasan Al Banna sangat prihatin dengan kelakuan Inggris yang memperbudak bangsanya. Masa itu adalah sebuah masa di mana umat Islam sedang mengalami kegoncangan hebat. Kekhalifahan Utsmaniyah (di Turki), sebagai pengayom umat Islam di seluruh dunia mengalami keruntuhan. Umat Islam mengalami kebingungan. Sementara kaum penjajah mempermainkan dunia Islam dengan seenaknya. Bahkan di Turki sendiri, Kemal Attaturk memberangus ajaran Islam di negaranya. Puluhan ulama Turki dijebloskan ke penjara. Demikianlah keadaan dunia Islam ketika al Banna berusia muda. Satu di antara penyebab kemunduran umat Islam adalah bahwa umat ini jahil (bodoh) terhadap ajaran Islam. Maka mulailah Hasan al Banna dengan dakwahnya. Dakwah mengajak manusia kepada Allah, mengajak manusia untuk memberantas kejahiliyahan (kebodohan). Dakwah beliau dimulai dengan menggalang beberapa muridnya. Kemudian beliau berdakwah di kedai-kedai kopi. Hal ini beliau lakukan teratur dua minggu sekali. Beliau dengan perkumpulan yang didirikannya “Al-Ikhwanul Muslimun,” bekerja keras siang malam menulis pidato, mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll. Dakwahnya mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam Mesir. Tercatat kaum muslimin mulai dari golongan buruh/petani, usahawan, ilmuwan, ulama, dokter mendukung dakwah beliau. Pada masa peperangan antara Arab dan Yahudi (sekitar tahun 45-an), beliau memobilisasi mujahid-mujahid binaannya. Dari seluruh Pasukan Gabungan Arab, hanya ada satu kelompok yang sangat ditakuti Yahudi, yaitu pasukan sukarela Ikhwan. Mujahidin sukarela itu terus merangsek maju, sampai akhirnya terjadilah aib besar yang mencoreng pemerintah Mesir. Amerika Serikat, sobat kental Yahudi mengancam akan mengebom Mesir jika tidak menarik mujahidin Ikhwanul Muslimin. Maka terjadilah sebuah tragedi yang membuktikan betapa pengecutnya manusia. Ribuan mujahid Mesir ditarik ke belakang, kemudian dilucuti. Oleh siapa? Oleh pasukan pemerintah Mesir! Bahkan tidak itu saja, para mujahidin yang ikhlas ini lalu dijebloskan ke penjara-penjara militer. Bahkan beberapa waktu setelah itu Hasan al Banna, selaku pimpinan Ikhwanul Muslimin menemui syahidnya dalam sebuah peristiwa yang dirancang oleh musuh-musuh Allah. Dakwah beliau bersifat internasional. Bahkan segera setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Hasan al Banna segera menyatakan dukungannya. Kontak dengan tokoh ulama Indonesia pun dijalin. Tercatat M. Natsir pernah berpidato didepan rapat Ikhwanul Muslimin. (catatan : M. Natsir di kemudian hari menjadi PM Indonesia ketika RIS berubah kembali menjadi negara kesatuan). Syahidnya Hasan Al-Banna tidak berarti surutnya dakwah beliau. Sudah menjadi kehendak Allah, bahwa kapan pun dan di mana pun dakwah Islam tidak akan pernah berhenti, meskipun musuh-musuh Islam sekuat tenaga berusaha memadamkannya. Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (Q. S. Ash-Shaff: 8) Masa-masa sepeninggal Hasan Al-Banna, adalah masa-masa penuh cobaan untuk umat Islam di Mesir. Banyak murid-murid beliau yang disiksa, dijebloskan ke penjara, bahkan dihukum mati, terutama ketika Mesir di perintah oleh Jamal Abdul Naseer, seorang diktator yang condong ke Sovyet. Banyak pula murid beliau yang terpaksa mengungsi ke luar negeri, bahkan ke Eropa. Pengungsian bagi mereka bukanlah suatu yang disesali. Bagi mereka di mana pun adalah bumi Allah, di mana pun adalah lahan dakwah. Para pengamat mensinyalir, dakwah Islam di Barat tidaklah terlepas dari jerih payah mereka. Demikianlah, siksaan, tekanan, pembunuhan tidak akan memadamkan cahaya Allah. Bahkan semuanya seakan-akan menjadi penyubur dakwah itu sendiri, sehingga dakwah Islam makin tersebar luas. Di antara karya penerus perjuangan beliau yang terkenal adalah Fi Dzilaalil Qur’an (di bawah lindungan Al-Qur’an) karya Sayyid Quthb. Sebuah kitab tafsir Al-Qur’an yang sangat berbobot di jaman kontemporer ini. Ulama-ulama kita pun menjadikannya sebagai rujukan terjemahan Al-Qur’an dalam Bahasa Indonesia. Di antaranya adalah Al-Qu’an dan Terjemahannya keluaran Depag RI, kemudian Tafsir Al-Azhar karya seorang ulama Indonesia Buya Hamka. Mengenal sosok beliau akanlah terasa komplit apabila kita mengetahui prinsip dan keyakinan beliau. Berikut ini adalah prinsip-prinsip yang senantiasa beliau pegang teguh dalam dakwahnya: Saya meyakini: “Sesungguhnya segala urusan bagi Allah. Nabi Muhammad SAW junjungan kita, penutup para Rasul yang diutus untuk seluruh umat manusia. Sesungguhnya hari pembalasan itu haq (akan datang). Al-Qur’an itu Kitabullah. Islam itu perundang-undangan yang lengkap untuk mengatur kehidupan dunia akhirat.” Saya berjanji: “Akan mengarahkan diri saya sesuai dengan Al-Qur’an dan berpegang teguh dengan sunah suci. Saya akan mempelajari Sirah Nabi dan para sahabat yang mulia.” Saya meyakini: “Sesungguhnya istiqomah, kemuliaan dan ilmu bagian dari sendi Islam.” Saya berjanji: “Akan menjadi orang yang istiqomah yang menunaikan ibadah serta menjauhi segala kemunkaran. Menghiasi diri dengan akhlak-akhlak mulia dan meninggalkan akhlak-akhlak yang buruk. Memilih dan membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan islami semampu saya. Mengutamakan kekeluargaan dan kasih sayang dalam berhukum dan di pengadilan. Tidak akan pergi ke pengadilan kecuali jika terpaksa, akan selalu mengumandangkan syiar-syiar islam dan bahasanya. Berusaha menyebarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk seluruh lapisan umat ini.” Saya meyakini: “Seorang muslim dituntut untuk bekerja dan mencari nafkah, di dalam hartanya yang diusahakan itu ada haq dan wajib dikeluarkan untuk orang yang membutuhkan dan orang yang tidak punya. Saya berjanji: “Akan berusaha untuk penghidupan saya dan berhemat untuk masa depan saya. Akan menunaikan zakat harta dan menyisihkan sebagian dari usaha itu untuk kegiatan-kegiatan kebajikan. Akan menyokong semua proyek ekonomi yang islami, dan bermanfaat serta mengutamakan hasil-hasil produksi dalam negeri dan negara Islam lainnya. Tidak akan melakukan transaksi riba dalam semua urusan dan tidak melibatkan diri dalam kemewahan yang diatas kemampuan saya.” Saya meyakini: “Seorang muslim bertanggung jawab terhadap keluarganya, diantara kewajibannya menjaga kesehatan, aqidah dan akhlak mereka.” Saya berjanji: “Akan bekerja untuk itu dengan segala upaya. Akan menyiarkan ajaran-ajaran islam pada seluruh keluarga saya, dengan pelajaran-pelajaran islami. Tidak akan memasukkan anak-anak saya ke sekolah yang tidak dapat menjaga aqidah dan akhlak mereka. Akan menolak seluruh media massa, buletin-buletin dan buku-buku serta tidak berhubungan dengan perkumpulan-perkumpulan yang tidak berorientasi pada ajaran Islam.” Saya meyakini: “Di antara kewajiban seorang muslim menghidupkan kembali kejayaan Islam dengan membangkitkan bangsanya dan mengembalikan syariatnya, panji-panji islam harus menjadi panutan umat manusia. Tugas seorang muslim mendidik masyarakat dunia menurut prinsip-prinsip Islam.” Saya berjanji: “Akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan risalah ini selama hidupku dan mengorbankan segala yang saya miliki demi terlaksananya misi (risalah) tersebut.” Saya meyakini: “Bahwa kaum muslim adalah umat yang satu, yang diikat dalam satu aqidah islam, bahwa islam yang memerintahkan pemelukya untuk berbuat baik (ihsan) kepada seluruh manusia.” Saya berjanji: “Akan mengerahkan segenap upaya untuk menguatkan ikatan persaudaraan antara kaum muslimin dan mengikis perpecahan dan sengketa di antara golongan-golongan mereka.” Saya meyakini: “Sesungguhnya rahasia kemunduran umat Islam, karena jauhnya mereka dari “dien” (agama) mereka, dan hal yang mendasar dari perbaikan itu adalah kembali kepada pengajaran Islam dan hukum-hukumnya, itu semua mungkin apabila setiap kaum muslimin bekerja untuk itu.” Berikut 10 Pesan dari Hasan Al Banna peletak dasar-dasar gerakan Islam sekaligus sebagai pendiri dan pimpinan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang semoga sangat bermanfaat bagi kita semua. * Lakukanlah shalat begitu kau dengar suara adzan ditempat apapun kau berada. Simaklah Al-Qur’an, renungkanlah isinya, dengarkanlah bacaannya, ingatlah akan kebesaran Allah. Jangan membuang-buang waktumu untuk urusan yang tak membawa manfaat. * Rajin-rajinlah belajar berbicara bahasa Arab yang benar, ini merupakan tugas penting seorang Muslim. * Jangan terlalu banyak berdebat tentang masalah apapun juga, karena tak ada untungnya menyombongkan diri * Jangan terlalu banyak tertawa, hati yang dekat kepada Allah itu selamanya tenteram dan tunduk * Jangan ikuti kecerobohan dan kesantaian masa lalu, perjuangan bangsa hanya mengenal kesungguhan * Janganlah berbicara terlalu keras melebihi apa yang diperlukan pendengarmu, karena yang demikian itu tidak bijaksana dan menjengkelkan * Hindarilah sikap menjelekkan orang di balik punggungnya, jangan berkata secara tak adil. Bicaralah yang baik-baik saja * Bergaullah dengan siapa pun dengan membawa nama baik al-ikhwan sekalipun orang itu tidak mau memulainya terlebih dahulu, karena agama kita bersandar pada ilmu pengetahuan dan kasih sayang sebagai sokogurunya * Utamakanlah tugas tanpa mengenal waktu. Tolong-menolonglah satu sama lain untuk kemashalatan bersama dari waktu yang tersedia dan bila ada urusan yang harus dikerjakan, maka selesaikanlah urusanmu itu

Imam Nasa'i : Ulama ahli bidang hadist

       Oleh : Ahmad Fairuz

Imam Nasa`i dengan nama lengkapnya Ahmad bin Syu’aib Al Khurasany, Beliau terkenal dengan nama An Nasa`i karena dinisbahkan dengan kota Nasa’i salah satu kota di Khurasan. Ia dilahirkan pada tahun 215 Hijriah demikian menurut Adz Dzahabi. Dan beliau meninggal dunia pada hari Senin tanggal 13 Shafar 303 Hijriah di Palestina dan beliau dimakamkan di Baitul Maqdis. Beliau menerima Hadits dari Sa’id, Ishaq bin Rawahih dan ulama-ulama lainnya selain itu dari kalangan tokoh ulama ahli hadits yang berada di Khurasanb, Hijaz, Irak, Mesir, Syam, dan Jazirah Arab. Ia termask diantara ulama yang ahli di bidang ini dan karena ketinggian sanad hadtsnya. Ia lebih kuat hafalannya menurut para ulama ahli hadits dari Imam Muslim dan kitab Sunan An Nasa`i lebih sedikit hadits dhaifnya (lemah) setelah Hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Ia pernah menetap di Mesir Para guru beliau yang nama harumnya tercatat oleh pena sejarah antara lain; Qutaibah bin Sa`id, Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin Rahawaih, al-Harits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud (penyusun Sunan Abi Dawud), serta Imam Abu Isa al-Tirmidzi (penyusun al-Jami`/Sunan al-Tirmidzi). Sementara murid-murid yang setia mendengarkan fatwa-fatwa dan ceramah-ceramah beliau, antara lain; Abu al-Qasim al-Thabarani (pengarang tiga buku kitab Mu`jam), Abu Ja`far al-Thahawi, al-Hasan bin al-Khadir al-Suyuti, Muhammad bin Muawiyah bin al-Ahmar al-Andalusi, Abu Nashr al-Dalaby, dan Abu Bakr bin Ahmad al-Sunni. Nama yang disebut terakhir, disamping sebagai murid juga tercatat sebagai “penyambung lidah” Imam al-Nasa`i dalam meriwayatkan kitab Sunan al-Nasa`i. Sudah mafhum dikalangan peminat kajian hadis dan ilmu hadis, para imam hadis merupakan sosok yang memiliki ketekunan dan keuletan yang patut diteladani. Dalam masa ketekunannya inilah, para imam hadis kerap kali menghasilkan karya tulis yang tak terhingga nilainya. Tidak ketinggalan pula Imam al-Nasa`i. Karangan-karangan beliau yang sampai kepada kita dan telah diabadikan oleh pena sejarah antara lain; al-Sunan al-Kubra, al-Sunan al-Sughra (kitab ini merupakan bentuk perampingan dari kitab al-Sunan al-Kubra), al-Khashais, Fadhail al-Shahabah, dan al-Manasik. Menurut sebuah keterangan yang diberikan oleh Imam Ibn al-Atsir al-Jazairi dalam kitabnya Jami al-Ushul, kitab ini disusun berdasarkan pandangan-pandangan fiqh mazhab Syafi`i. Untuk pertama kali, sebelum disebut dengan Sunan al-Nasa`i, kitab ini dikenal dengan al-Sunan al-Kubra. Setelah tuntas menulis kitab ini, beliau kemudian menghadiahkan kitab ini kepada Amir Ramlah (Walikota Ramlah) sebagai tanda penghormatan. Amir kemudian bertanya kepada al-Nasa`i, “Apakah kitab ini seluruhnya berisi hadis shahih?” Beliau menjawab dengan kejujuran, “Ada yang shahih, hasan, dan adapula yang hampir serupa dengannya”. Kemudian Amir berkata kembali, “Kalau demikian halnya, maka pisahkanlah hadis yang shahih-shahih saja”. Atas permintaan Amir ini, beliau kemudian menyeleksi dengan ketat semua hadis yang telah tertuang dalam kitab al-Sunan al-Kubra. Dan akhirnya beliau berhasil melakukan perampingan terhadap al-Sunan al-Kubra, sehingga menjadi al-Sunan al-Sughra. Dari segi penamaan saja, sudah bisa dinilai bahwa kitab yang kedua merupakan bentuk perampingan dari kitab yang pertama. Imam al-Nasa`i sangat teliti dalam menyeleksi hadis-hadis yang termuat dalam kitab pertama. Oleh karenanya, banyak ulama berkomentar “Kedudukan kitab al-Sunan al-Sughra dibawah derajat Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Di dua kitab terakhir, sedikit sekali hadis dhaif yang terdapat di dalamnya”. Nah, karena hadis-hadis yang termuat di dalam kitab kedua (al-Sunan al-Sughra) merupakan hadis-hadis pilihan yang telah diseleksi dengan super ketat, maka kitab ini juga dinamakan al-Mujtaba. Pengertian al-Mujtaba bersinonim dengan al-Maukhtar (yang terpilih), karena memang kitab ini berisi hadis-hadis pilihan, hadis-hadis hasil seleksi dari kitab al-Sunan al-Kubra. Disamping al-Mujtaba, dalam salah satu riwayat, kitab ini juga dinamakan dengan al-Mujtana. Pada masanya, kitab ini terkenal dengan sebutan al-Mujtaba, sehingga nama al-Sunan al-Sughra seperti tenggelam ditelan keharuman nama al-Mujtaba. Dari al-Mujtaba inilah kemudian kitab ini kondang dengan sebutan Sunan al-Nasa`i, sebagaimana kita kenal sekarang. Dan nampaknya untuk selanjutnya, kitab ini tidak akan mengalami perubahan nama seperti yang terjadi sebelumnya. Kritik Ibnu al-Jauzy Kita perlu menilai jawaban Imam al-Nasa`i terhadap pertanyaan Amir Ramlah secara kritis, dimana beliau mengatakan dengan sejujurnya bahwa hadis-hadis yang tertuang dalam kitabnya tidak semuanya shahih, tapi adapula yang hasan, dan ada pula yang menyerupainya. Ia tidak mengatakan bahwa didalamnya terdapat hadis dhaif (lemah) atau maudhu (palsu). Ini artinya beliau tidak pernah memasukkan sebuah hadispun yang dinilai sebagai hadis dhaif atau maudhu`, minimal menurut pandangan beliau. Apabila setelah hadis-hadis yang ada di dalam kitab pertama diseleksi dengan teliti, sesuai permintaan Amir Ramlah supaya beliau hanya menuliskan hadis yang berkualitas shahih semata. Dari sini bisa diambil kesimpulan, apabila hadis hasan saja tidak dimasukkan kedalam kitabnya, hadis yang berkualitas dhaif dan maudhu` tentu lebih tidak berhak untuk disandingkan dengan hadis-hadis shahih. Namun demikian, Ibn al-Jauzy pengarang kitab al Maudhuat (hadis-hadis palsu), mengatakan bahwa hadis-hadis yang ada di dalam kitab al-Sunan al-Sughra tidak semuanya berkualitas shahih, namun ada yang maudhu` (palsu). Ibn al-Jauzy menemukan sepuluh hadis maudhu` di dalamnya, sehingga memunculkan kritik tajam terhadap kredibilitas al-Sunan al-Sughra. Seperti yang telah disinggung dimuka, hadis itu semua shahih menurut Imam al-Nasa`i. Adapun orang belakangan menilai hadis tersebut ada yang maudhu`, itu merupakan pandangan subyektivitas penilai. Dan masing-masing orang mempunyai kaidah-kaidah mandiri dalam menilai kualitas sebuah hadis. Demikian pula kaidah yang ditawarkan Imam al-Nasa`i dalam menilai keshahihan sebuah hadis, nampaknya berbeda dengan kaidah yang diterapkan oleh Ibn al-Jauzy. Sehingga dari sini akan memunculkan pandangan yang berbeda, dan itu sesuatu yang wajar terjadi. Sudut pandang yang berbeda akan menimbulkan kesimpulan yang berbeda pula. Kritikan pedas Ibn al-Jauzy terhadap keautentikan karya monumental Imam al-Nasa`i ini, nampaknya mendapatkan bantahan yang cukup keras pula dari pakar hadis abad ke-9, yakni Imam Jalal al-Din al-Suyuti, dalam Sunan al-Nasa`i, memang terdapat hadis yang shahih, hasan, dan dhaif. Hanya saja jumlahnya relatif sedikit. Imam al-Suyuti tidak sampai menghasilkan kesimpulan bahwa ada hadis maudhu` yang termuat dalam Sunan al-Nasa`i, sebagaimana kesimpulan yang dimunculkan oleh Imam Ibn al-Jauzy. Adapun pendapat ulama yang mengatakan bahwah hadis yang ada di dalam kitab Sunan al-Nasa`i semuanya berkualitas shahih, ini merupakan pandangan yang menurut Muhammad Abu Syahbah_tidak didukung oleh penelitian mendalam dan jeli. Kecuali maksud pernyataan itu bahwa mayoritas (sebagian besar) isi kitab Sunan al-Nasa`i berkualitas shahih. Tutup Usia Setahun menjelang kemangkatannya, beliau pindah dari Mesir ke Damsyik. Dan tampaknya tidak ada konsensus ulama tentang tempat meninggal beliau. Al-Daruqutni mengatakan, beliau di Makkah dan dikebumikan diantara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-`Uqbi al-Mishri. Sementara ulama yang lain, seperti Imam al-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia mengatakan, Imam al-Nasa`i meninggal di Ramlah, suatu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh Ibn Yunus, Abu Ja`far al-Thahawi (murid al-Nasa`i) dan Abu Bakar al-Naqatah. Menurut pandangan terakhir ini, Imam al-Nasa`i meninggal pada tahun 303 H/915M dan dikebumikan di Bait al-Maqdis, Palestina.

Al Kindi : Filosof Pertama yang memelopori penerjemahan

       Oleh : Ahmad Fairuz

Ringkasan Biografi Intelektual al-Kindi Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq al-Kindi. Dia lahir di Kufah, Irak, pada 801 M/185 H. Gelar al-Kindi dinisbatkan pada nama suku Kindah di wilayah Arabia Selatan. Dari suku Kindah ini pula, lahir seorang penyair besar bernama Imra`ul Qais (w. ± 540 M). Ayahnya, Ishaq, adalah gubernur Kufah di masa pemerintahan al-Mahdi (775-785) dan al-Rasyid (786-809). Al-Kindi adalah filosof Arab pertama yang memelopori penerjemahan sekaligus mengenalkan tulisan atau karya-karya para filosof Yunani di dunia Islam, terutama pada abad pertengahan di masa pemerintahan khalifah al-Ma`mun (813-833) yang mengundangnya untuk mengajar di Baitul Hikmah. Al-Kindi hidup di masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, mulai dari khalifah al-Amin (809-813), al-Ma`mun (813-833), al-Mu’tashim (833-842), al-Watsiq (842-847), dan al-Mutawakkil (847-861). Al-Kindi hidup dalam atmosfer intelektualisme yang dinamis saat itu, khususnya di Baghdad dan Kufah, yang berkembang beragam disiplin ilmu pengetahuan: filsafat, geometri, astronomi, kedokteran, matematika, dan sebagainya. Al-Kindi tidak hanya dikenal sebagai penerjemah, tetapi juga menguasai beragam disiplin ilmu lainnya, seperti kedokteran, matematika, dan astronomi. Al-Kindi berhasil mengubah sekaligus mengembangkan beberapa istilah yang menarik perhatian para filosof sesudahnya, seperti: kata al-jirm menjadi al-jism; kata at-tawahhum (imaginasi) menjadi at-takhayyul; kata at-thīnah menjadi al-māddah; dsb. Ketika khalifah al-Mutawakkil memerintah, mazhab resmi negara (yang sebelumnya menganut mazhab/aliran Mu’tazilah) diganti menjadi Asy’ariyah. Dua orang putra Ibnu Syakir, Muhammad dan Ahmad, mencoba menghasut al-Mutawakkil dengan mengatakan bahwa orang yang mempelajari filsafat cenderung kurang hormat pada agama. Al-Mutawakkil kemudian memerintahkan agar al-Kindi didera dan perpustakaannya yang bernama Kindiyyah disita (meski kemudian dikembalikan). Al-Kindi meninggal pada 866 M/252H. Ringkasan Pemikiran Filsafat. Menurut al-Kindi, agama dan filsafat tidak mungkin bertentangan. Agama di samping sebagai wahyu juga menggunakan akal, dan filsafat juga menggunakan akal. [dari penulis] Di dalam al-Qur`an disebutkan, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda [āyāt] bagi kaum yang berakal; yaitu mereka yang ber-dzikir dalam keadaan berdiri dan duduk dan mereka yang ber-tafakkur dalam penciptaan langit dan bumi…” (Q.S. ). Yang benar pertama (al-Haqq al-Awwal) adalah Tuhan. Dalam hal ini, filsafat juga membahas soal Tuhan dan agama. Dan filsafat paling tinggi adalah filsafat tentang Tuhan (seperti filsafat skolastik). Bagi al-Kindi, orang yang menolak filsafat bisa dianggap kafir, karena dia telah jauh dari kebenaran, meskipun dirinya menganggap paling benar. Jika terjadi pertentangan antara nalar logika dengan dalil-dalil agama dalam al-Qur`an, mestinya ditempuh dengan jalan ta`wīl (interpretasi, kontekstualisasi, atau rasionalisasi atas teks-teks keagamaan). Hal ini karena dalam bahasa (termasuk bahaa Arab), terdapat dua makna: makna hakīkī (hakikat, esensi) dan makna majāzī (figuratif, metafora). Namun demikian, menurut al-Kindi, memang terdapat perbedaan dari segi sumber data (informasi) antara agama dan filsafat. Agama diperoleh melalui wahyu tanpa proses belajar. Sedang filsafat diperoleh melalui proses belajar (berpikir dan berkontemplasi). Sedang dari segi pendekatan dan metode, agama dilakukan dengan pendekatan keimanan, sedang filsafat dilakukan dengan pendekatan logika. Al-Kindi juga menyinggung soal jiwa manusia. Menurutnya, jiwa tidak tersusun, substansinya adalah ruh yang berasal dari substansi Tuhan. Dalam hal jiwa, al-Kindi lebih dekat dengan pandangan Plato yang mengatakan bahwa hubungan antara jiwa dan badan bercorak accidental (al-‘aradh). Al-Kindi berbeda dari Aristoteles yang berpendapat bahwa jiwa adalah form dari badan. Menurut al-Kindi, jiwa memiliki 3 daya: 1) jiwa bernafsu (al-quwwah asy-syahwāniyyah); 2) jiwa memarah (al-quwwah al-ghadhabiyyah); dan 3) jiwa berakal (al-quwwah al-‘āqilah). Selama ruh (jiwa) berada di badan, ia tidak akan menemukan kebahagiaan hakiki dan pengetahuan sempurna. Setelah bepisah dari badan dan dalam keadaan suci, ruh akan langsung pergi ke “alam kebenaran” atau “alam akal” di atas bintang-bintang, berada dilingkungan cahaya Tuhan dan dapat melihat-Nya. Di sinilah letak kesenangan hakiki ruh. Namun jika ruh itu kotor, ia akan pergi terlebih dahulu ke bulan, lalu ke Merkuri, Mars, dan seterusnya hingga Pluto; kemudian terakhir akan menetap ke dalam “alam akal” di lingkungan cahaya Tuhan. Di sanalah jiwa akan kekal abadi di bawah cahaya Tuhan. Bagi yang berbuat durhaka dan kejahatan di dunia, jiwa (ruh) manusia akan jauh dari cahaya Tuhan sehingga dia akan sengsara. Bagi manusia yang berbuat kebajikan, jiwa (ruh) yang dikandungnya dahulu ketika di bumi, akan dekat dengan cahaya Tuhan dan akan hidup bahagia di sisi-Nya. Demikian sekilas tentang al-Kindi, filosof muslim pertama yang telah berjasa memberi tansformasi intelektual bagi umat Islam dan peradaban manusia. Semoga ringkasan ini bisa memberi ‘warna lain’ bagi pencerahan intelektual dan kedewasaan dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku.

Kisah Sahabat : Nasib Patung Manat

       Oleh : Ahmad Fairuz

Amr bin Jamuh adalah seorang pembesar dari Bani Salamah yang dihormati dan disegani. Dia adalah seorang bangsawan yang dikenal sangat bergantung kepada penyembahan terhadap patung. Amr bin Jamuh memiliki patung yang terbuat dari bahan kayu yang paling mahal dan berharga, yang dia berikan nama’’Manat’’. Sungguh Amr bin Jamuh sangat berlebih-lebihan dalam merawat si Manat, dia melumurinya dengan minyak wangi yang paling termahal dimasa itu. Manat adalah patung yang merupakan tumpuan dalam diri Amr ketika menghadapi berbagai permasalahan hidupnya. Ketika cahaya Islam telah menyinari keluarga Amr, yaitu istri dan ketiga anaknya Muawidz, Muadz dan Khallad, Amr masih tetap berada diatas agama nenek moyangnya di usia yang sudah tua 60 tahun. Ketika 3 anaknya mengajak sang bapak untuk mengikuti agama Muhammad, serentak Si Amr berkata: “Aku tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa melibatkan patung kesayanganku Al-Manat. Anak-anaknya pun berkata: “Bukankah Si Manat hanya sebuah patung yang berasal dari kayu yang dungu, tidak berakal dan tidak dapat berbicara?” Kemudian Amr pergi ke patung kesayangannya ia pun berdiri tegak berpijak pada kakinya yang kokoh, meskipun salah satu kakinya pincang dengan kepincangan yang sangat, mulailah ia memuji dan menyanjungnya dengan sanjungan yang berlebih-lebihan dan mulailah dia mengadu kepada Manat. Tentang keadaan 3 anaknya yang telah meninggalkan agama nenek moyangnya, dia berkata: “Akankah engkau murka dan marah ya Manat…..?” Pada suatu hari anak-anaknya bersepakat untuk menghilangkan ketergantungan sang bapak kepada patung Manat. Di malam harinya anak-anaknya pergi ke tempat penyimpanan patung Manat, merekapun memindahkan Manat dari tempatnya, lalu membawanya ke sumur milik Abu Salamah dengan melemparkan kotoran pada Manat, lalu membuangnya di sumur tersebut, kemudian setelah itu mereka kembali ke rumah mereka. Di pagi hari yang cerah Amr berjalan dengan penuh kekhusyuan menuju patungnya untuk memberikan penghormatan. Alangkah kaget si Amr patung kesayangannya tidak ada di tempatnya. Dia berkata dengan nada marah: ”Celakalah kalian, siapa diantara kalian yang telah melakukan permusuhan terhadap tuhanku tadi malam?”. Namun tidak ada seorang pun yang menjawab. Maka Amr bin Jamuh segera mencari Manat di dalam dan di luar rumah dengan penuh emosional dan penuh kemarahan, bahkan dia pun mengancam memberikan hukuman yang pedih bagi pelakunya hingga akhirnya dia mendapatkan Manat patung kesayangannya terjerembab di dalam parit dengan posisi kepala dibawah, lalu iapun memandikannya, membersihkannya kemudian melumurinya dengan minyak wangi dan mengembalikannya pada tempat semula seraya berkata : “Jika aku mengetahui siapa saja yang melakukan hal ini niscaya akan aku hinakan dia!” Keesokan malamnya anak-anaknya melakukan hal yang sama kepada patung Manat dan pada keesokan paginya Amr melakukan hal yang sama pada patung kesayangannya mencucinya, membersihkannya, dan meminta maaf kepada patung tersebut, hal ini terus terjadi setiap harinya. Sehingga Si Amr pun bosan dengan perlakuan yang dilakukan kepada patung kesayangannya, maka pada suatu hari dia berpesan kepada Manat: “Aku tidak mengetahui siapa yang berbuat senonoh kepadamu! Aku sekarang tidak mampu untuk menghalanginya!, maka hadanglah keburukan yang menimpa dirimu, ini kusiapkan pedang kuletakkan disisimu!.” Kemudian beliau menuju ke tempat pembaringannya. Tatkala anak-anaknya mengetahui bahwa sang bapak telah larut dalam tidurnya, mereka pun segera berangkat menuju Manat lalu mengambil pedang yang berada disisinya dan menggantungkan dilehernya, mereka pun membawa keluar Si Manat lalu mengikatkan pada bangkai anjing dengan tali yang kuat dan mengikatnya menjadi satu, kemudian mereka melemparkannya kedalam sumur milik Bani Salamah. Keesokan harinya Si Tua ini pun bangun dari tidurnya, namun ia tidak mendapati patung ada ditempatnya, lalu ia keluar dari rumahnya untuk mencari keberadaan patung tersebut. Alangkah kagetnya Si Amr dia mendapatkan wajah patung Manat tersungkur ke dalam sumur dengan terikat bangkai anjing sedang pedang tetap mengalung dilehernya, pada kesempatan ini dia hanya terdiam membiarkan Manat tetap dalam kubangan lumpur, Dia pun terdiam, termenung………. dan dia pun berkata: “Demi Allah jika kamu (Manat) benar-benar tuhan, niscaya engkau dan anjing tidak akan mungkin terikat bersamaan di kubangan lumpur.” Setelah kejadian ini, Amr bin Jamuh memasuki babak baru dalam hidupnya dengan masuk Islam, merasakan manisnya iman, dan membawanya untuk menyesali disetiap detik yang ia jalani dalam kubangan kesyirikan. Amr bin Jamuh pun mati sebagai syuhada dalam peperangan Uhud semoga Alloh merahmatinya. ( Sumber Siroh sahabiyah /DR Abdrahman Ra’fat al Basya)