Kamis, 24 Oktober 2013

Arti baik secara bahasa

oleh ahmad fairuz

Berpuluh-puluh tahun, para filsuf kususnya dari cabang ilmu filsafat analitis bahasa beradu argumen tentang katayang satu ini. Baik. Mereka mencoba mendefinisikan apa arti Baik. Mereka berkali-kali mencoba menjelaskan, apakah perbuatan baik itu. Dan hingga kini, belum di satu titik pun mereka bertemu.
    Kaum hedonis, memberi arti kata baik adalah segala hal yang menyenangkan. segala yang baik, pasti menyenangka.Kelompok revalis menyebutkan, segala yang baik selalu bersifat baru. Danyang lama, tentun sudah kadaluarsa. Lalu ada pula menganggap baik itu berarti banyak, luas, tinggi dan lain sebagainya.
    salah satu yang menjadi pendapat mayoritas adalah pendapat kaum agamawan. Mereka menyebutkan, baik atau perbuatan baik itu adalah segala sesuatu yang mengacu pada kehendak tuhan. Baik, bagi golongan ini adalah segala sesuatu yang bersifat dan berorientasi pada balasan spiritual serta ilahiyyah.Tapi perbuatan apa yang dimaksud tuhan dengan kebikan? Apakah kebikan bersifat permanen dan tidakberubah? Apakah kebaikan selalu standar pada waktu dan di tempat yang berbeda?
     Tak pernah ada jawaban yang satu tentang hal itu. Kebaikan ternyata tak bisa di terjemah. Karena memang kebaikan tak terdiri dari bagian-bagian atau lapisan-lapisan yang bisa dipilah satu persatu dan dilikuti lembar demi lembar. Kebaikan tak pernah bisa didefinisikan karena memnag ia takdiam, selalu berubah, memiliki banyak kompoposisi dan pola tersendiri.
     satu perbuatan baik, di tempat dan waktu yang berbeda, bisa berarti sama sekali tidak baik. Begitu juga sebaliknya.
     Karena itu, Allah merumuskan dengan begitu cemerlang untuk kita dalam Al-Quran tentang hal ini, dalam surat Al-baqarah ayat 216, meski ayat tersebut menjelaskan tentang perang, sesungguhnya, apa yang di jabarkan Allah adalah sifat umum manusia, yang selalu berada dalam posisi tarik menarik. Tentu saja Allah yang tahu segala kebaikan mutlak dan semua keburukan absolut.
     Tugas kita adalah selalu berhati-hati dan hentinya mentaddaburi.mana yang menyenangkan dan mana yang berati kebikan. Mana kebencian dan mana keburukan.Sebab, banyak manusia yang di ujung umurnya terjerembab karena hal-hal yang ia sangka sebagai kebaikan karena ia menyenangkan. Padahal ia sedang berkutat dengan keburukan.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar